Monday, 14 September 2015

Kamuflase Kenyamanan

Mencoba keluar dari kamuflase kenyamanan,
Memberontak dengan kegilaan,
Saat yang terang begitu menyilaukan,

Tak ingin terlena dalam euforia,
Bahagia yang sebenarnya ada pada diam,
Gelap yang sebenarnya adalah
saat mata terpejam mengutuk cahaya,
Tetap sadar bahwa ketenangan adalah
saat ketidakwarasanku berada di puncak,

Oh… Tuhan,
Engkau harus tetap ada,
Sekalipun aku menjauh dari-Mu.

—Pekalongan, 14 September 2015

Saturday, 12 September 2015

Bacalah! Atas Nama Tuhanmu

Kenapa harus ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia? Kenapa —beberapa di antara— mewajibkan menuntut yang pertama dan tidak untuk yang terakhir? Apakah eksakta —semisal— tidak mampu mengantarkan manusia untuk menuju nur-Nya?

Bagaimana mungkin kita bisa mendalami fara’id, falak dan menjalankan jual-beli yang sah secara syar’i tanpa matematika? Bagaimana mungkin kita bisa memahami thaharah tanpa kimia dan fisika? Bagaimana mungkin kita bisa merasakan agungnya penciptaan tanpa belajar biologi dan ilmu bumi? Bagaimana mungkin kita bisa hablu minannas jika tidak memahami ilmu sosial?

Bukankah tugas manusia paling pertama adalah “iqra”, tanpa pengecualian dan batas dikotomis? Bukankah representasi “qalam” yang dimaksud adalah mushaf yang diejawantahkan dalam bentuk-bentuk yang ada di dunia ini?

Wednesday, 02 September 2015

February 2015

Friday, 13 February 2015

2014

September 2014

Saturday, 27 September 2014

Air Mata dari Mata Hati

Jika benar ini dan itu adalah pilihan,
maka pilihan sungguh membutuhkan sebuah keputusan

dan…

sebuah keputusan tak ‘kan pernah berarti,
tanpa adanya sebuah tanggung jawab dari diri

Saat diri bertanya tentang;
sosok yang menjadi inspirasi hidup,
sosok yang menyembuhkan luka kekosongan,
sosok yang mampu menjawab; ‘Siapa Aku?
melawan ke-Aku-an yang angkuh,
dari luar diri mereka…

Sungguh…
Benar atau salahkah
Aku, Kamu, atau Mereka…
Bertanyalah dulu tentang; ‘Siapa Aku?

Dari Hamba,
yang merindukan air mata dari mata hati

Muhamad Muzayin. Jogja, Sept 2007.