Saturday, 12 September 2015

Bacalah! Atas Nama Tuhanmu

Kenapa harus ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia? Kenapa —beberapa di antara— mewajibkan menuntut yang pertama dan tidak untuk yang terakhir? Apakah eksakta —semisal— tidak mampu mengantarkan manusia untuk menuju nur-Nya?

Bagaimana mungkin kita bisa mendalami fara’id, falak dan menjalankan jual-beli yang sah secara syar’i tanpa matematika? Bagaimana mungkin kita bisa memahami thaharah tanpa kimia dan fisika? Bagaimana mungkin kita bisa merasakan agungnya penciptaan tanpa belajar biologi dan ilmu bumi? Bagaimana mungkin kita bisa hablu minannas jika tidak memahami ilmu sosial?

Bukankah tugas manusia paling pertama adalah “iqra”, tanpa pengecualian dan batas dikotomis? Bukankah representasi “qalam” yang dimaksud adalah mushaf yang diejawantahkan dalam bentuk-bentuk yang ada di dunia ini?